Archive for July, 2005

Jika Syurga dan Neraka Tak Pernah Ada…

Sunday, July 31st, 2005

Begitu lirik lagu yang dinyanyikan Chrisye ma Dani Dewa.

Hm, apa iya kita perlu syurga ketika roh sudah tidak menyatu lagi dengan jasad kita? Apa di syurga kita juga merasa perlu makan, minum dan masih kepikiran buat ML?

Kembali ke lirik lagu yang ditulis Dani Dewa tadi (benernya sih sudah pernah dengar di tipi, tapi baru nyimak liriknya kemaren setelah beli kasetnya.Meskipun beli kaset bukan karena lagu itu, tapi krn suka "Menunggumu"-nya Peterpan yang ada di Senyawa), menjadi menggelitik, apa iya kita berbuat baik karena "diiming-imingi" Syurga dan takut pada Neraka?

Apa sih Syurga? Di kitab suci ada ‘bocoran’ soal Syurga. Di sana, banyak bidadari2 yang cantik2, ada sungai2 yang mengalir di dalamnya. Mau makan apa saja tinggal bilang…pokoknya semua2 yang baik2 ada di sana. Hm….Apa memang ketika masa itu datang kita masih butuh itu semua? (dengan catatan kalo kita masuk syurga loh, hehehe…) Bukankah saat itu sepertinya kita udah ngga punya "napsu" lagi?

Sama sekali bukan berniat "menyangkal" firman Nya atau ngga percaya dengan keberadaan syurga dan neraka loh. Mana berani daku, karena bukan hanya bakal ‘dijewer’-Nya, tapi juga bakal diprotes orang sedunia. Just think…syurga yang diceritakan dalam kitab suci disebutkan dalam ‘konteks’ yang bisa dicerna alam pikir manusia pada saat itu.

Sama halnya ketika anak or ponakan kita yang masih kecil, bertanya tentang syurga dan neraka pada kita, pasti kita akan cerita sesuai dengan tingkat pemahamannya. Misalnya kita bilang,"wah kalo di syurga nanti kamu bisa makan permen sepuasnya, bisa maen2 kuda2an, bisa…..".

Dan kalo cerita tentang neraka, kita akan cerita tentang betapa tidak enaknya disiksa (padahal kemungkinan ketemu dengan para selebriti lebih banyak loh, hehehee….). Kalo dijelaskan tentang Syurga pada para pria, tentu diselipkan…wah banyak bidadari yang cantik2 (karena bayangan kenikmatan itu ya sebatas itu, heheheh….)

Yang jelas, terlepas dari gimana syurga dan neraka kelak, yang daku yakini bahwa setiap orang akan mendapat balasan atas semua perbuatannya, sekecil apapun. Tidak akan pernah tertukar!

Image there’s no heaven,

It’s easy if you try

No hell below us

Above us only sky..(Lennon)

Paradise City

Wednesday, July 27th, 2005

Take me down to the paradise city, where the grass is green and the girls are pretty….(Axl)

Gile..tau ngga berapa duit yang keluar untuk bisnis esek2 di Sumut? 272 milyar rupiah/tahun!! Fiuh…itu baru estimasi kasar aja. Dengan estimasi jumlah PS, jumlah pelanggan, berapa transaksi per-minggu, dapat deh angka segitu. Belum cerita soal uang keamanan, minum, anjelo (ojek buat antar jemput lont..) de el el, de es be…

Sementara uang program buat nyetop AIDS dan IMS aja ngga sampe segitu di APBD (bahkan APBN) kita. Itu baru cerita Sumatera Utara, belom lagi propinsi lain….

Ngga heran kalo makin banyak aja AIDS di negara ini. Hik..Paradise City yang bisa bikin Hell City dunia akhirat…..Apalagi kalo pemerintah kita semakin munak aja.

Menyangkal kalo di daerahnya ada lokalisasi (but prostitusi meningkat terus).

Apa karena mereka belom tau angka2 itu ya? Padahal kalo dikumpulin kan gede banget. Kalo mereka bayar pajak? Hiii…dilematis ya, kan ngga semua orang juga mau ‘menikmati’ bisnis "lendir" kayak gitu, hehehe….

"if you got the money, honey..

we got your disease…

welcome to the jungle!"

Lokalisasi1_1

yesterday

Friday, July 22nd, 2005

Yesterday

Wah, kalo ingat masa lalu banyak banget yang bisa diceritain. Hal2 yang dulunya pas dijalani rasanya ‘pait’ banget, tapi kalo diingat sekarang bisa bikin senyum plus terharu, hehee..melo banget. Misalnya, waktu SMP tuh daku bela2in jalan kaki pulang pergi ke sekolah supaya bisa beli kaset Mata Dewa yang harganya ketika itu cuma 4 ribu perak! Tapi, ‘pengorbanan’ itu rasanya manis banget.

Terus, juga ketika diriku dan sodara2ku ngga bisa banyak lagi dapat suport dari ortu buat beli buku cerita, kita jadi punya celengan bareng yang kita sebut Pabikutra (Patungan Beli Buku Cerita). Setiap sen rasanya begitu berarti. Dan ketika kita bisa beli Trio Detektif atau Lima Sekawan di jaman itu, wah rasanya seneeeng banget. Apa yang kita dapatkan menjadi sesuatu yang sangat berarti dan sangat dinikmati

Dan sekarang? Ketika aku bisa untuk beli buku apa saja, kaset siapa saja dan kapan saja…nilai kepuasan kok jadi beda ya? Bisa beli buku banyak, tapi tidak punya waktu untuk mbaca, untuk menikmati…kok jadi beda ya? Apakah harus sesuatu yang lebih ‘besar’ lagi yang bisa membuat kita bisa menjadi ‘puas’? Hal2 yang tidak sesederhana di masa lalu……..? Dulu dapat duit goceng aja, rasanya dah jadi orang yang paling kaya sedunia. Sekarang, begitu ngeliat kontrak baru angkanya cuma naik dikit dari yang teakhir, bisa ngedumel (sebelum akhirnya sadar dan malu menjadi orang yang tidak bersyukur pada Nya)

Well, jadi ngerasa waktu tuh rasanya berlalu begitu cepat. Kayaknya baru kemaren aja maen segala macam bermaenan,trus masuk masa remaja, trus kuliah, trus kerja…(tinggal nikah aja yang belom, hehehe…)

Semua masa punya kesan tersendiri. Apalagi buat diriku yang sering banget pindah kota, pindah sekolah, pindah lingkungan, fiuuh…capek. Pernah ber-andai pengen jadi orang lain, tapi daku pikir apapun yang terjadi pada diri kita adalah yang terbaik yang diatur Nya, dan itu harus disyukuri….

Sehingga, apapun yang kita alami, apapun dan di mana pun, semua menjadi indah…

Oh my god, i’m really miss my yesterday