Hard to say “I am sorry…”
Tuesday, August 9th, 2005Memaafkan dan minta maaf adalah 2 hal yang bukan sesuatu yang baru. Soalnya selagi judulnya manusia bukan malaikat pasti pernah berbuat salah.Tetapi benarkah itu menjadi sesuatu yang sulit dilakukan?
Bukan sulit, tapi sangat sulit, komentar seorang teman.
Dia duluanlah mestinya minta maap, masak aku duluan, enak kali dia. Seorang teman lama curhat. Dia pikir dia siapa, sambungnya lagi. Kali ini dengan tampang yang lebih jelek dari biasanya. Cemberut gitu, namanya juga lagi sebel!
Hm…Masalah sih sebenarnya sepele. Bisa diselesaikan sih jika kedua belah pihak mau terbuka dan bicara satu sama lain. Hanya saja untuk saling bicara ini yang sulit. Padahal kalo ngga bicara ngga mungkin suatu masalah bisa diatasi. Kalo ngga diomongin mana tau kita isi hati orang, kecuali kalo kita punya bakat jadi paranormal.
Tapi yaaah…..gitu deh (minjam istilahnya Bajay) , kadang gengsi yang bicara. Karena merasa bener, kita pengen orang yang salah sama kita itu yang datang minta maaf…. Kita pengen orang yang bersalah itu menunjukkan penyesalannya, kalo pake bahasanya si Pangeran Charles pake “please, please…please…” Gitu kali ye? Atau biar lebih dramatis lagi, yang bikin salah mesti pake nyembah segala??
“Ngga mesti gitulah, aku hanya pengen dia tau bahwa yang dia buat itu nyakitin banget tau ngga, dia udah ngecewain aku banget. Dia udah aku anggap sodara sendiri, tapi kelakuannya itu loh. Sebenarnya aku juga sedih banget dia buat kayak gitu.” Ceritanya lagi.
“So? Kalo dia sekarang datang dan minta maaf ke kamu, kamu mau maafin dia?” aku coba pancing.
“Huh, jangan sekarang. Aku lagi ngga mau ngomong sama dia.”
Aku kebetulan kenal dengan orang yang temenku itu maksud. Dan aku juga tahu bahwa teman kuliahku ini memang kadang tingkahnya “ajaib”. Tapi aku juga melihat sikapnya sudah menunjukkan penyesalan kok dan berusaha ber-baik-baik dengan temenku yang marah2 ini. Memang kata maaf itu yang ngga ada…tapi ternyata itu belum ‘sah’ juga. Kata maaf mesti diucapkan. Temenku ini juga aneh, tadi katanya pengen yang buat salah minta maaf, tapi ketika dibilang gimana kalo dia datang, ngga mau terima. Lucu kan? Jadi apa dong maunya? Hm..sulit juga ya.
Terkadang kita memang buat kesalahan. Jika yang kita sadari aja sulit bagi kita untuk ucapkan maaf, apalagi yang ngga kita sadari ya? Apalagi kalo misalnya kita termasuk orang yang ngga bisa menangkap ‘bahasa tubuh’ orang lain yang misalnya sebel or bete sama kita. Hm…Sementara itu gimana kalo orang berbuat salah sama kita? Apakah kita bisa dengan mudah memaafkan?
Forgiven but not forgotten. Memaafkan tetapi tidak melupakan.
“Kamu pendendam dong?”Tuduhku.
“Ngga sih…aku ngga pendendam kayak di pilem silat yang mesti dibalas, hanya….”
Wah, itu sih sama aja. Sekecil apapun yang ada di dalam hatimu perasaan tidak senang terhadap seseorang karena kesalahan or perbuatannya, bagiku itu ‘dendam’.
Temanku masih meneruskan curhatnya tentang kekesalan pada orang2 yang pernah berbuat salah padanya….
Semakin dekat hubungan emosional kita dengan orang tertentu, semakin besar potensi untuk “sakit” atau “menyakiti” ketika kesalahan itu terjadi… Apakah peribahasa “gara-gara setitik nila, rusak susu sebelanga” berlaku untuk semua orang???
Sementara mendengar ceritanya, pikiranku melayang…hm, daripada mencari-cari kesalahan orang lain, lebih baik mengkoreksi diri, mikir kapan terakhir aku pernah membuat orang sebel atas sikapku, marah-marah ke orang…terutama orang-orang tercintaku….Dan ketika kesalahanku kutemukan, cepat2 minta maaf. Karena siapa jamin aku masih hidup sampai lebaran mendatang, ya kan?