Archive for December, 2005

Satu Satu Aku Sayang Ibu

Thursday, December 22nd, 2005

Satu-satu Aku Sayang Ibu

Hari ini, hari Ibu,

Suatu hari yang selama bertahun-tahun kuanggap sama  saja dengan 300-an hari lain di sepanjang tahun

But hari ini, sangat berkesan

Ketika aku mewakili lembagaku untuk menghadiri acara peringatan Hari Ibu yang dimotori oleh salah satu LSM

Seminar Kesehatan Reproduksi untuk Perempuan, menjadi materi acara yang menggugah penasaranku. Yang lainnya ada lomba masak, tari2an anak, puisi, dll…

Hm, menarik juga, ingin tahu seminar seperti apa yang disajikan di Banda Aceh yang kental religius Islamnya ini? Apakah mereka tidak tabu membicarakan seks? Rasa penasaran membuatku mengundurkan agenda yang mestinya kuhadiri pagi ini.

Mengisi buku tamu, seperti biasa. Hanya ketika aku duduk di kursi dalam gedung, baru aku sadari bahwa aku satu-satunya perempuan yang tidak disemat sekuntum anggrek di dadanya. Wah, apa karena mereka merasa aku belum pantas jadi “Ibu” ya sehingga tidak mendapat kehormatan itu? Protesku, en segera meng-sms beberapa teman. Satu sms masuk dengan jawaban, “hahahha….”. Dasar Ika! Tetapi ada juga kok sms simpatik yang menghibur (thanks Pak!)

Seminar Kespro. This is my life!Aku mencoba menahan diri untuk tidak “menggeta” (menggeta = menggatal, istilah saHIVa yang terjemahan bebasnya  suatu tindakan yang membuat orang tahu keberadaan kita. Heboh, gitu deh). Hm….tanganku langsung menuliskan beberapa point yang menarik. Kalo boleh dibilang,  sesuatu yang mestinya bisa dilakukan oleh pembicara agar menjadi lebih baik.

Misalnya, si pembicara mestinya turun “panggung” agar lebih komunikatif. Tidak hanya terduduk di kursi di atas panggung gede, dan merasa aman “bersembunyi” di belakang laptop sehingga wajahnya saja tidak terlihat.

Juga masalah bahasa (lebih cocok dibawakan untuk kelas kecil deh daripada seminar begini! Dengan istilah medis yang tidak semua orang paham) yang aku rasa kurang tepat dengan audiens yang bercampur ada ibu2 40 tahunan, ibu2 muda, remaja, bapak2, dan anak2 gitu loh. Untuk peserta yang mixing kayak gini emang sulit sih.

Ada

yang malu2, ada yang pura2 tidak melihat ke depan, ada yang cuek, tapi lumayan seru pas tanya jawab.

Positipnya, ketika akan mulai, Si Pembicara cukup rendah hati dengan mengatakan bahwa dia bukan yang paling tahu, tapi di sini mengajak untuk berbagi.

Nah, point ini yang aku pakai, ketika ada peserta yang menanyakan soal “keperawanan”, dan ketika jawaban dari pembicara “kurang memuaskan”, diriku akhirnya berdiri memberikan tambahan (tentu saja dengan gaya yang teramat sopan loh dan ngga bikin pembicara tersinggung, wong daku juga mengkait2kan dengan jawaban yang dia berikan kok, tentu saja dengan pinjam kata2 dia tadi, bahwa ini sekedar berbagi pengalaman). Bukan sok pakar banget gitu loh.

Hasilnya, tambahanku yang sekitar 3 menit-an itu dapat tepukan spontan dari anak2 muda yang duduk dipojokan. Sekitar 10 orang gitu yang tepuk tangan. Padahal, sampai seminar ditutup, yang namanya applaus dari peserta ke pembicara tuh ngga ada. Moderator juga ngga ada tuh ngasi “perintah”. Ngga kayak kalo seminar yang pernah aku hadiri, biasanya abis ditutup

kan

, moderator sering bilang kasi applus buat pembicara atau buat kita semua gitu, biar meriah. Ini kagak ada….

Tapi, bukan itu yang membuat hari ini berkesan.

Tapi setelah itu. Ketika acara seminar selesai. Dan acara selanjutnya adalah persembahan dari Anak ke Ibu. Jadi, anak-anak, sekitar 10 orang akan memberikan sesuatu pada “Ibunya”.

Aku kaget, ketika panitia meminta aku untuk naik ke atas panggung sebagai salah satu dari 10 wakil ibu-ibu lainnya. They insisted me. Padahal gw dah bilang, I am not a mother, yet!

Tapi, dengan malu2 kucing gw naik juga. And then, ada 10 anak dengan sebuklet anggrek naek ke panggung.

And, satu persatu mendatangi “Ibu”nya. Anak cewek berjilbab oranye yang baru aku ketemu hari itu memberikan kepadaku. Wajahnya innocent banget. Dia menyalam dan mencium tanganku, yang aku sambut dengan memberikan ciuman di pipinya. Eh, dia langsung merangkulku erat2. Lama banget, Ngga sadar mataku jadi berkaca-kaca (dan sekarang, saat menulis ini aku masih terbawa perasaan haru itu).

Dia juga menangis. Mungkin ingat Ibunya. Dia salah satu piatu tsunami ternyata.

Dia ingat Ibu-nya. Dan aku juga ingat Ibuku. Anak sekecil itu sudah tidak punya ibu. Sungguh berat cobaanmu, Nak.

Kami turun panggung dengan perasaan haru.

What amazing! Yang tadinya aku protes ngga dapat sekuntum bunga, eh malah dapat satu buklet. Dan ngga nyangka aja dipercaya jadi “ibu” meski di atas panggung.

Mudah2an itu bisa menggerakkan hatiku untuk bisa berbuat banyak untuk keselamatan ibu dengan posisiku di pekerjaan sekarang ini.. Isu Safe motherhood!

Supaya jangan lagi banyak orang yang “tidak punya ibu”. (seperti yang ibu kandungku alami. Nenekku meninggal ketika melahirkan ibuku dan saudari kembarnya).

Satu-satu aku sayang Ibu,

Ibu yang begitu perkasa melahirkan aku dan 7 saudara kandungku..(Mom..I just realize that you were completely high risk! Too young (hamil pertama usia 18 tahun), too much (punya anak mpe 8), too closer (melahirkan anak mpir tiap tahun!).

Mom, I miss you

Can’t wait to see you next week…

I wanna be Ur lover

Tuesday, December 20th, 2005

Let me be Your lover

And be lover from Your lover

I know You wont be jealousy

Cause You know that we wont leave You

Even we will love You more

(BA.21.12.05)