Sesuatu Yang Tertunda
Sunday, February 19th, 2006Gara-gara kegiatan Diskusi 12 Ulama untuk membicarakan Safe Motherhood dari aspek Kesehatan, Islam dan Adat, acara ke Medan-ku yang mestinya Sabtu kemaren jadi tertunda. Tadinya aku pengen nolak buat kegiatan di tanggal itu, tapi mana mungkin aku geser, karena agenda diskusi ini sendiri seharusnya dibuat di Desember kemaren, jadi Februari ini ngga mungkin mundur lagi. Salah satu kerjaan yang menjadi tugasku sejak menjabat posisi sekarang.
Sedih, karena aku terpaksa mengecewakan keponakan-ku lagi. Andra, yang berulang tahun tanggal 18 kemaren. Aku sudah sempat berjanji untuk hadir pada dia, meski tetap dengan embel2, "kalo Ujing ngga mesti kerja ya say.."(karena aku dah dapat feeling kalo harus batal).
Dan benar, ketika menyusun agenda, tanggal 18-19 adalah tanggal yang tepat untuk diskusi, dan aku harus hadir..terpaksa kukorbankan (lagi-lagi) agenda pribadiku…
Waktu menelpon dia tadi malam, aku iseng nanya dia ulang tahun yang ke berapa. Dan ketika dia jawab, "6", aku jadi tersentak. Bukan karena aku lupa dia lahir tahun berapa, tapi karena ‘diingatkan’ bahwa tahun 2000 itu sudah 6 tahun yang lalu…(hehehe…apa beda nya ya).
Tahun yang membuat aku ingat akan sesuatu yang tidak ingian aku ingat-ingat lagi…
Tapi, alhamdullilah, mudah2an "pengorbananku" ngga sia2. Ternyata oh ternyata..hasil bahasan 12 ulama itu (terutama adat dan agamanya) benar2 keren. Banyak hal yang menarik yang muncul. Mulai dari perlakuan keluarga terhadap ibu saat hamil, melahirkan dan saat anak sudah lahir, nilai2 philosofis-nya cool banget. Misalnya, anak yang lahir, ketika cukuran, rambutnya ditimbang, dan seberat timbangan rambut itu (misalnya 1 gram), dihargai dengan 1 gram emas, trus duit seharga 1 gram emas itu dibagikan kepada hadirin. Sebagai wujud, bahwa anak nantinya akan dermawan. Makin tebal rambut anak, makin banyak yang mesti disumbang. Jadi kalo anaknya botak? Hehehe…ngga tau ya, mungkin ortunya nunggu anaknya gondrong dulu. Trus banyak juga hal lain yang bisa dikaitkan dengan sisi kesehatan loh, pokoknya, kalo buku ini jadi, sosialisasi ke masyarakat penting banget. apalagi yang hadir juga tokoh adat aceh yang cukup punya pengaruh.
Pas pembahasan agama, gw pura2 ngga dengar deh, apalagi kalo bukan soal pembahasan hak2 istri dan suami, tanggungjawab, dsb. Bukan apa2, ujungnya2 kembali ke soal kewajiban nikah. Fiuh, kalo gw cowo, lajang dan mampu, mungkin akan merah padam deh. tapi berhubung gw cewe, jadi ya pura2 bego aja, soalnya ngga mungkin kan gw yang melamar anak orang (heheh…meski mungkin aja sih).
Anyway, ada juga yang lucu ketika pembahasan soal adat. ada yang nyebutin sesuatu kebiasaan yang terjadi di masyarakat yang negatip,misalnya ibu tidak boleh minum banyak,atau hanya boleh makan jenis makan tertentu…dsb. Tokoh adatnya langsung "ngeles", bilang, itu bukan adat aceh, itu adalah kebiasaan yang sering dilakukan orang (gw jadi bingung, bukankah adat juga adalah kebiasaan yang sering dilakukan). terus belio langsung aja ralat dengan tambahan2 lain…yah sutra lah, kita ambil yang positip2nya aja. tapi tetap, gw bilang dia buku itu nantinya perlu diceritain juga "kebiasaan2" negatip yang sering dilakukan orang, disertai klarifikasi atau penjelasannya…adil dong, ya ngga?
Anyway, kerja 2 hari yang awalnya sempat buat aku bete banget (banyak hal terjadi beberapa hari ini yang buatku berat), berjalan cukup seru. Dan yang bikin aku terharu, ketika menuliskan hasil komisi, si bapak yang tokoh adat dan agama yang cukup sepuh (diatas 70 tahunan gitu and semangat diskusi mpe jam 10 malam), mengingatkan aku," Jangan lupa tulis Bismillah di atas, supaya apa yang kita kerjakan ini, ketika nanti dipergunakan orang, sampai kapanpun, insyallah pahala akan terus mengalir buat kita….."
Amin. Thanks Ustad, karena sudah diingatkan kembali bahwa semua kerja harusnya memang kita niatkan ibadah…semoga.