Archive for April, 2006

Menghitung Hari

Thursday, April 6th, 2006

Yup, this is my last week in Banda Aceh.

Mencoba menikmati setiap detik sisa hari-hari ku di Banda.

Mencoba menulis sebelum laptop kantor yang selama 5 bulan terakhir ini setia menemani ini dikembalikan ke IT. Tadi aku sudah menyerahkan pesawat radio kembali ke operator. No more radio check since tonite. Aku tersenyum dalam hati.

Tadi sore aku juga sudah mengirimkan kembali motor tua-ku ke Medan. Dan nanti sore, menyerahkan kunci ruangan kembali ke Marlene, Cewek Canada yang sharing room di kantor denganku.

”Hik, I hate to say good bye…”

“But why you don’t want to extend your contract here? Do they offer you higher?”

Terngiang kembali suara Si Babe-begitu kami menyebut beliau-, head section-ku yang awalnya tidak mengerti mengapa aku tidak mau melanjutkan kontrak. Itu untuk kedua kalinya aku menghadap dia. Yang pertama, satu minggu yang lalu. Ketika aku mendapat tugas baru dari project officer-ku, aku nekat ngomong ke Babe bahwa jika tugas ini aku kerjakan, aku khawatir tidak akan siap pada saat kontrakku berakhir. Waktu itu, dia lansung menyeretku, menunjuk ke kertas yang tertempel di dinding. Menunjukkan organogram baru.  Mengatakan bahwa jika aku tetap melanjutkan kontrak, dia akan rekomendasikan aku untuk suatu posisi baru. Behaviour Change Initiative. Posisi yang sekarang sedang diproses untuk diiklankan. Suatu tawaran yang sangat-sangat menarik sebenarnya. Melihat aku ragu, Si Babe langsung mutuskan,

“We talk about it later, ok. You should take time to think again.”

Think? Do I have a time to think? Too late, Sir. Jika masih ada waktu untuk berpikir adalah berpikir bagaimana caranya agar aku bisa berkata tidak untuk suatu keputusan yang sudah aku ambil. Suatu hal yang berat. Jauh lebih berat daripada ketika aku memutuskan untuk resigned dari kantorku yang lama dan masuk ke sini.

“This is not about the money, Sir.”

Aku tahu dia tahu itu. Ini juga bukan soal aku tidak mau menghadapi berbagai hal birokrasi di sini yang membuat capek. Bukan. Bukan itu. Toh di mana pun kerja, kita akan selalu dihadapkan dengan berbagai hal, tantangan-tantangan baru. Jadi kondisinya tidak akan jauh berbeda.

Masalahnya adalah, aku sudah terlanjur memberikan komitmen bahwa aku tertarik untuk kembali kepada kantorku yang lama. Setelah perbincangan tak sengaja dengan teman kantor lama yang juga sahabatku. Setelah mendengar bahwa kantor lama akan memberikan banyak training buat stafnya. Dan, obrolan ringan tentang kantor lama itu ternyata ditanggapi serius oleh temanku, yang menghubungi bos-nya, dan kemudian menelponku. Mereka terlalu baik. Dan aku, kelemahanku terbesar adalah paling sulit untuk mengecewakan orang lain. Itu yang membuat aku butuh waktu dan energi untuk memutuskan.

“Why? You don’t like Aceh, do you?”

I love Aceh. 5 bulan terakhir ini adalah salah satu episode terbaik dalam hidupku. Aku punya ”keluarga” baru di sini. Teman-teman di Lingke dan di Health Section. Mengingat segala hal yang sudah aku jalani bersama mereka di sini membuat aku malas untuk kembali ke Medan.

Gank_lingke

”Why?”

“Medan need me more than Banda, Sir”, jawabku. Dan Si Bos membantah dengan kalimat yang membuatku GR, hehehe… thanks Bos!

Tetapi juga banyak hal di Medan yang membuat aku merasa harus kembali. Kejadian-kejadian 2 bulan terakhir ini. Semua saling terkait dan tidak berdiri sendiri, itu yang aku tahu. Jadi sulit juga memang untuk menjelaskan ”mengapanya”

Jangan hanya untuk menyenangkan hati orang, lantas kamu mengorbankan diri sendiri.

Terngiang kembali ucapan seorang teman dekat yang sudah aku anggap sebagai kakak di telinga.

Off course not. I am not a hero. Meski aku tetap punya prinsip bahwa sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang paling banyak manfaatnya buat orang lain.

Listen to your heart!

Yah, Istikharoh pun kulakukan berulang kali. Jawabannya positip, back to the place where I was belong. Aku rindu kembali ke lapangan. Di sini, tugas yang kujalankan lebih banyak mengharuskanku berada di belakang meja. Paling tidak 5 bulan terakhir ini. Itu yang membuatku merasa tertarik untuk kembali. Ditambah dengan dorongan teman-teman lapangan yang masih rajin menelponku dan menceritakan progress yang mereka alami.

Tetapi tawaran untuk tetap di sini juga sangat-sangat menarik. Apalagi, supervisorku termasuk orang yang pintar memujuk dan tidak mau ’menerima’ keputusanku untuk tidak memperpanjang kontrak. Kata-katanya berhasil membuat aku menjadi bimbang lagi. Mikir lagi, pusing lagi.

Sampai akhirnya, ketika aku masih diberi waktu satu hari untuk berpikir (meskipun aku berulangkali mengatakan bahwa aku sudah punya keputusan, tapi mereka masih berharap aku berubah pikiran) malamnya aku menelpon Ibu ku. Dengan niat, suara Nya akan keluar melalui ibuku. Dan, yah…aku tidak bisa membantah lagi ketika mendengar suara Mama yang begitu senang menanyakan kapan aku pulang, dan tidak kembali lagi ke Banda untuk bekerja. Aku tahu, meski beliau tidak melarangku untuk bekerja di Banda, jauh dalam lubuk hatinya masih ada kekhawatiran. Yup, Mama…I’m coming home dong kalo gitu judulnya.

Dan akhirnya, aku kembali mengatakan ke supervisorku…aku tetap tidak akan melanjutkan kontrak. Bahkan untuk diperpanjang sampai akhir bulan, aku juga tidak mau. Aku ingin menikmati diriku sendiri dulu.

”Jangan berhenti git, sambung aja dulu. Masuk ke sini sulit loh.” Bujuk supervisorku.

Ah kalau yang namanya rezeki ngga ke mana, ya ngga.

Aku tahu, apa yang terjadi semua adalah proses.

Aku juga tahu bahwa apa yang aku lakukan tidak akan bisa menyenangkan semua pihak. Tetapi yang aku tahu, apapun pilihanku, orang-orang terdekatku akan memberikan dorongan. Meskipun mereka mungkin kecewa dengan keputusanku.

Life goes on.

Setiap kita pasti akan menjalani episode yang sudah ditentukan oleh Sang Sutradara.

Aku yakin aku akan sangat merindukan masa-masaku di Aceh. Diantara keluarga baru-ku. Tetapi aku yakin, jarak dan waktu tidak akan memutuskan apa yang sudah terjalin.

Menghitung hari. Menikmati setiap detik terakhirku di Banda. Aku yakin aku akan merindukan Banda, merindukan hari-hari yang menyenangkan di sini, bersama saudara-saudara baruku. Aku yakin, aku akan nangis begitu aku memeluk dan menyalami mereka……(bahkan ketika menulis ini, aku menangis).

I don’t want to say good bye, guys!

I just want to say, till we meet again!

I love you! Thanks so much for everything you have done for me…

Dan mohon maaf untuk semua kesalahan

Never say good bye

Never say good bye

You and me and my old friend

Hoping it would never end…..