Karena Wanita Ingin Dimengerti (terutama wanita spesial (pake telor)…

Selama 2 minggu ini, praktis aku banyak "bersentuhan" dengan Mba2 Waria di 4 kabupaten/kota. Mulai dari Pelatihan Pendidik Sebaya di Langkat dan Pematang Siantar/Simalungun, juga kegiatan edutainment, dan pemilihan miss waria peduli AIDS se Kabupaten Serdang Bedagai. Suatu pengalaman yang sangat luar biasa buatku. Meskipun sebelumnya, di tahun 2004 aku pernah menghadiri acara Pemilihan Miss Waria se-Sumatera Utara di Medan.Bukan sebagai peserta, tentunya, hehehe….meskipun ngga feminin2 amat, gw kan masih cewe tulen..:)

Acaranya seru dah heboh! Mereka lucu, ceria dan kreatif-nya itu loh. Aku banyak belajar dari mereka. Tetapi, semakin banyak aku bergaul dengan mereka, semakin banyak hal yang ingin aku ketahui dan merasa bego selama ini. Jika kalian berpikiran bahwa semua waria itu tongkrongannya lembut dan feminin (fisik loh ya), ternyata banyak juga waria yang fisiknya maskulin banget dan ngga nolak dipanggil "abang", tetapi kalo bicara dan berpikir sebagai waria. Ngakunya  juga waria. Ngga mau dandan cewe karena emang tongkrongannya laki banget. Tetapi melihat pilihan baju dan aksesoris yang dipakainya, baru deh kelihatan. Fiuh…

Yang istimewa dan membuatku terharu, hik, melihat antusias mereka terhadap isu HIV/AIDS yang dibawakan. Meskipun kemampuan loading peserta ngga sama (ada yang lambreta, tapi ada juga yang pentium 3 boo), tetapi paling tidak besar sekali harapan mereka untuk menunjukkan sisi positip dari seorang waria.

Terharu juga mendengar harapan, keinginan dan "bosan"-nya mereka yang selama ini dianggap "sampah" oleh masyarakat. Meskipun kegiatan saling "mencela" di antara mereka terus berjalan (misalnya pas ada waria yang ngomong janji untuk komitmen dalam program HIV/AIDS, ada aja yang nyeletuk "Kaidah", "Kak Siti", "Perez.." yang artinya kira-kira "gombal/bermanis mulut") tetapi terlihat mereka punya semangat karena merasa diperhatikan.

Apalagi jika mereka diberi tahu bahwa waria-waria di tempat lain, teman-teman mereka, juga sedang terus berkiprah hal yang sama.

Ada pertanyaan cerdas  yang terlontar dari mulut salah satu peserta.  HIV/AIDS? Mengapa kami yang menjadi sasaran program? Mengapa kami yang dikejar2 seolah kami menjadi sumber penularan?

Yup, kecurigaan itu jelas masih ada, dan terasa "tidak adil" memang. Untunglah si Gita tak kalah "lancip"nya untuk menjawab dengan jurus2 tentang "perjuangan" kita semua untuk mengepung semua pihak, terutama high risk men (bukan kaidah loh!). Sehingga mereka mengerti dan jelas…

Well,

I know.. it’s not the end, but the beginning.

Masih banyak "PR" yang mesti diselesaikan. Untuk mengakomodasi semangat mereka, keinginan-keinginan mereka. Karena waria juga ingin dimengerti…

 

Leave a Reply