Let’s Get ROCK!

August 14th, 2006 by gitasahiva

Fiuh, dalam beberapa minggu ini asyik banget. Bareng Meli ngeliat live show. Pertama Naff-5 Agustus kemaren. Yang ini seru. Nyaris dari lagu pertama sampai lagu terakhir kita nyanyi bareng. Soalnya kebetulan aku emang punya Album terakhir Naff yang "Isyarat Hati". Awalnya sih malah aku ngga kenal Naff sama sekali. Wong, lagu Terendap Lara-ku aja, selama ini aku kirain lagunya Padi, hehehee…

Thanks banget buat ’sahabat’ku yang dah ngenalin Naff. Yang bikin aku penasaran nyari kaset "Isyarat Hati" karena ada lagu ‘Engkau Masih Kekasihku’. Dan ternyata, selain lagu ‘basi banget’ itu (hehehe…) ada juga lagu2 kerennya, seperti ‘Akhirnya Kumenemukanmu’ (hik, pengen banget bisa cepat2 nyanyiin lagu ini dengan sepenuh hati dan segenap jiwa for my future man) dan ‘Tak Pantas’ (for my mantan kali ye?). Yang jelas, aku menikmati banget nonton Naff 2 minggu lalu itu. Puas banget. Suara juga sampe serak.

Malam minggu kemaren mestinya lihat Iwan Fals di stadion Teladan. But aku dah kecapekan sih, trus juga ngga ada yang nemenin. Padahal, aku sempat cinta banget loh sama dia, hik.

Trus kemaren, minggu, lihat Soundadrenalin. Wow, bener2 asyik. Meski terhadap band2 tersebut masih sebatas suka aja (Naff masih yang jadi paling, heheeh…), tapi lagu2 yang dibawain Nidji, Samson, Ungu, Club Eighties, Rif, Pas Band trus banyak lagi, lumayan familiar di telinga. Lumayan bisa ikut nyari bareng. Meski ngga sampe jingkrat2an heboh kayak anak muda lainnya. Ngerasa dah tua juga sih, hehehe…

But yang bikin aku senang, anak2 muda itu lumayan sopan. Pas mau gila2an mereka dah ‘laporan’ duluan, "mbak, ntar kalo tiba2 kami ‘nyerang’(istilah mereka buat nari dorong2an), mba ke pinggir aja ya."

dalam ati mungkin dia heran juga kali ye kok ada juga ‘kakak2′ ngeliat live music kayak gini, hehehe…cuek deh.

Yang jelas, karena ngga mau nunggu sampe malam (dah mulai ujan dan kecapekan dari jam 1-an), jam 9, pas God Bles kita cabut pulang.

Ngga nunggu sampe Radja, Boomerang dan Slank manggung. Nyesal juga sih,karena beberapa lagu mereka aku juga familiar banget.

Pas God Bless nyanyi, kami dah jalan nuju pulang. Rasanya juga belum rela. Aku ikutan nyanyi sepanjang jalan. Sementara Meli yang anak tahun 80-an (yang waktu God Bless top2nya masih balita) heran karena aku tau2 lagu2nya. Hehehe…semakin nyadar dah tua, karena lagu2 God Bless yang dibawain kebetulan sempat menjadi ‘fave’ aku dan adik laki2ku. Kita malah pernah patungan buat beli kasetnya.

Fiuh, jadi kangen masa SMA, waktu masih gila2nya Rock and Metal Ballads, mulai dari GNR, Bon Jovi, Poison, Warrant, Saigon Kick, Metalica, Sepulturan, Skid Row, dlll…percaya ngga percaya, pada masa itu aku, kakak dan adikku, kita malah apal2 banget nama semua personil band2 rock tersebut. Lebih apal dibanding nama partai politik yang ada dalam pelajaran sejarah (kita sempat keceplos kayak gitu dulu….)

Sekarang sih, sebagai penikmat sajalah. Urusan musik, urusan mood juga. Meski selera bisa berubah, yang jelas buat rock kaga ada matinya!

LSound1 et’s get rock!

COMBLANG

August 9th, 2006 by gitasahiva

Receive SMS: Gita kita bisa ketemu kapan ya?

Sabtu bisa atau minggu, kalo hari kerja biasa kayaknya ngga bisa, Bang –send

Receive SMS: Oke, Sabtu or Minggu ya? Nanti aku konfirmasi lagi ya.

Boleh, tapi konfirmasinya kalau bisa cepat ya Bang, biar aku bisa atur agendaku yang lainnya. Busyet, kesannya kok jadi sok sibuk banget ya! :) —send

Ngga ada jawaban.

Ngga tau deh, apa yang nerima sms bisa tau bahwa aku becanda tapi juga serius. Kalo dalam tahap ini aja dia dah kapok dan anggap aku sok sibuk banget ya terserah deh. Mau “putus” sebelum “jadian” juga aku ngga begitu ambil pusing, hehehe…Lagi pula, hari Sabtu and Minggu itukan hari yang mahal banget. Aku bisa gunakan untuk banyak hal. Ke saHIVa, mulai dari sekedar say hello or diskusi, mau tidur2an di rumah, manjain diri, ke bengkel, dll…Jadi, ada or tidak ada janji sama seseorang di hari-hari itu emang penting banget buatku, gitu loh.

Entah kenapa dalam beberapa bulan terakhir ini ada aja niat baik beberapa teman or sahabat yang bermaksud “mengenalkan”ku dengan teman, kenalan, adik, abang, sahabat yang mereka anggap sebagai “potensial klien” eh potensial calon.

Mungkin juga karena aku juga lagi gencar-gencar nya promo kalo aku jomblo (abis bosan ditanyain mulu, kapan…kapan), dan mulut dengan entengnya bilang, “Cariin lah, masa cuma nanya aja. Ayo dong, tanggungjawab..). Jadi mereka (yang aku tahu karena sayang ke aku) juga semangat mengajukan kandidat.

Cuma ya itu, kita sama-sama sepakat, cuma dikenalkan, selanjutnya…terserah anda! Heheheh…

But so far so good-lah. Untung aja daku sudah lumayan punya banyak pengalaman juga soal kopda alias kopi darat begitu. Mulai dari kenalan lewat telp, sms sampe ketemu.

Kan

dah punya pengalaman dulu waktu masih rajin2nya chat dan email2an ma Invisible friend dari banyak

kota

, hehehe..sampe pernah dulu dapat julukan “cewe sejuta email”.

Kalo soal yang ketemu-ketemu sekarang, minimal kencan pertama “selamat” aja dah syukur, heheheh…Soalnya ngatur waktu buat ketemu aja dah setengah mati.

Rata-rata yang mau dikenalkan juga orang sibuk sih.

Untung jadinya sama-sama maklum.

Well, jujur sih kalo sekarang dah ngga begitu pengen lagi gila-gilaan.

Pengen yang serius2 aja. Tapi juga ngga pengen kecewa or ngecewakan orang lagi. Paling tidak kalo pas dah ketemu, kita sama-sama merasa ”ngga cocok”  jadi no hurt feeling, masih bisa jadi teman

Soalnya, buatku, aku  masih pengen ngerasain chemistry atau feeling dulu deh

Kalo itu ga ada, kok rasanya ngga bisa dipaksakan

Tapi untuk jadi teman yang baik, hehehe…oke aja

Dengan Mak Comblang yang udah punya niat baik, aku juga terima kasih banget and belum kapok kok,meski kejadiannya jadi aneh-aneh, hehehe

So, do you have any candidate for me? J

Can’t fight this feeling anymore

June 16th, 2006 by gitasahiva

Have you ever done something very stupid?

Do something that you fully understand the risk?

Something that makes you feel guilty and very sorry for yourself?

Something that makes you feel as a sinner?

I have done

I know, there’s no excuse about it

Whatever I try to find the reason, they will say that I am wrong

And I know

I was wrong

God,

Please forgive me

For everything I have done

Don’t let me be further from You

I try hard to be a good one, but it happened again

I can’t fight this feeling anymore

Jika tanpa ampunanMu

Jika tanpa rahmad dan cintaMu

Sesungguhnya aku

Adalah orang merugi

(acacia 16.06.06)

Menghitung Hari

April 6th, 2006 by gitasahiva

Yup, this is my last week in Banda Aceh.

Mencoba menikmati setiap detik sisa hari-hari ku di Banda.

Mencoba menulis sebelum laptop kantor yang selama 5 bulan terakhir ini setia menemani ini dikembalikan ke IT. Tadi aku sudah menyerahkan pesawat radio kembali ke operator. No more radio check since tonite. Aku tersenyum dalam hati.

Tadi sore aku juga sudah mengirimkan kembali motor tua-ku ke Medan. Dan nanti sore, menyerahkan kunci ruangan kembali ke Marlene, Cewek Canada yang sharing room di kantor denganku.

”Hik, I hate to say good bye…”

“But why you don’t want to extend your contract here? Do they offer you higher?”

Terngiang kembali suara Si Babe-begitu kami menyebut beliau-, head section-ku yang awalnya tidak mengerti mengapa aku tidak mau melanjutkan kontrak. Itu untuk kedua kalinya aku menghadap dia. Yang pertama, satu minggu yang lalu. Ketika aku mendapat tugas baru dari project officer-ku, aku nekat ngomong ke Babe bahwa jika tugas ini aku kerjakan, aku khawatir tidak akan siap pada saat kontrakku berakhir. Waktu itu, dia lansung menyeretku, menunjuk ke kertas yang tertempel di dinding. Menunjukkan organogram baru.  Mengatakan bahwa jika aku tetap melanjutkan kontrak, dia akan rekomendasikan aku untuk suatu posisi baru. Behaviour Change Initiative. Posisi yang sekarang sedang diproses untuk diiklankan. Suatu tawaran yang sangat-sangat menarik sebenarnya. Melihat aku ragu, Si Babe langsung mutuskan,

“We talk about it later, ok. You should take time to think again.”

Think? Do I have a time to think? Too late, Sir. Jika masih ada waktu untuk berpikir adalah berpikir bagaimana caranya agar aku bisa berkata tidak untuk suatu keputusan yang sudah aku ambil. Suatu hal yang berat. Jauh lebih berat daripada ketika aku memutuskan untuk resigned dari kantorku yang lama dan masuk ke sini.

“This is not about the money, Sir.”

Aku tahu dia tahu itu. Ini juga bukan soal aku tidak mau menghadapi berbagai hal birokrasi di sini yang membuat capek. Bukan. Bukan itu. Toh di mana pun kerja, kita akan selalu dihadapkan dengan berbagai hal, tantangan-tantangan baru. Jadi kondisinya tidak akan jauh berbeda.

Masalahnya adalah, aku sudah terlanjur memberikan komitmen bahwa aku tertarik untuk kembali kepada kantorku yang lama. Setelah perbincangan tak sengaja dengan teman kantor lama yang juga sahabatku. Setelah mendengar bahwa kantor lama akan memberikan banyak training buat stafnya. Dan, obrolan ringan tentang kantor lama itu ternyata ditanggapi serius oleh temanku, yang menghubungi bos-nya, dan kemudian menelponku. Mereka terlalu baik. Dan aku, kelemahanku terbesar adalah paling sulit untuk mengecewakan orang lain. Itu yang membuat aku butuh waktu dan energi untuk memutuskan.

“Why? You don’t like Aceh, do you?”

I love Aceh. 5 bulan terakhir ini adalah salah satu episode terbaik dalam hidupku. Aku punya ”keluarga” baru di sini. Teman-teman di Lingke dan di Health Section. Mengingat segala hal yang sudah aku jalani bersama mereka di sini membuat aku malas untuk kembali ke Medan.

Gank_lingke

”Why?”

“Medan need me more than Banda, Sir”, jawabku. Dan Si Bos membantah dengan kalimat yang membuatku GR, hehehe… thanks Bos!

Tetapi juga banyak hal di Medan yang membuat aku merasa harus kembali. Kejadian-kejadian 2 bulan terakhir ini. Semua saling terkait dan tidak berdiri sendiri, itu yang aku tahu. Jadi sulit juga memang untuk menjelaskan ”mengapanya”

Jangan hanya untuk menyenangkan hati orang, lantas kamu mengorbankan diri sendiri.

Terngiang kembali ucapan seorang teman dekat yang sudah aku anggap sebagai kakak di telinga.

Off course not. I am not a hero. Meski aku tetap punya prinsip bahwa sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang paling banyak manfaatnya buat orang lain.

Listen to your heart!

Yah, Istikharoh pun kulakukan berulang kali. Jawabannya positip, back to the place where I was belong. Aku rindu kembali ke lapangan. Di sini, tugas yang kujalankan lebih banyak mengharuskanku berada di belakang meja. Paling tidak 5 bulan terakhir ini. Itu yang membuatku merasa tertarik untuk kembali. Ditambah dengan dorongan teman-teman lapangan yang masih rajin menelponku dan menceritakan progress yang mereka alami.

Tetapi tawaran untuk tetap di sini juga sangat-sangat menarik. Apalagi, supervisorku termasuk orang yang pintar memujuk dan tidak mau ’menerima’ keputusanku untuk tidak memperpanjang kontrak. Kata-katanya berhasil membuat aku menjadi bimbang lagi. Mikir lagi, pusing lagi.

Sampai akhirnya, ketika aku masih diberi waktu satu hari untuk berpikir (meskipun aku berulangkali mengatakan bahwa aku sudah punya keputusan, tapi mereka masih berharap aku berubah pikiran) malamnya aku menelpon Ibu ku. Dengan niat, suara Nya akan keluar melalui ibuku. Dan, yah…aku tidak bisa membantah lagi ketika mendengar suara Mama yang begitu senang menanyakan kapan aku pulang, dan tidak kembali lagi ke Banda untuk bekerja. Aku tahu, meski beliau tidak melarangku untuk bekerja di Banda, jauh dalam lubuk hatinya masih ada kekhawatiran. Yup, Mama…I’m coming home dong kalo gitu judulnya.

Dan akhirnya, aku kembali mengatakan ke supervisorku…aku tetap tidak akan melanjutkan kontrak. Bahkan untuk diperpanjang sampai akhir bulan, aku juga tidak mau. Aku ingin menikmati diriku sendiri dulu.

”Jangan berhenti git, sambung aja dulu. Masuk ke sini sulit loh.” Bujuk supervisorku.

Ah kalau yang namanya rezeki ngga ke mana, ya ngga.

Aku tahu, apa yang terjadi semua adalah proses.

Aku juga tahu bahwa apa yang aku lakukan tidak akan bisa menyenangkan semua pihak. Tetapi yang aku tahu, apapun pilihanku, orang-orang terdekatku akan memberikan dorongan. Meskipun mereka mungkin kecewa dengan keputusanku.

Life goes on.

Setiap kita pasti akan menjalani episode yang sudah ditentukan oleh Sang Sutradara.

Aku yakin aku akan sangat merindukan masa-masaku di Aceh. Diantara keluarga baru-ku. Tetapi aku yakin, jarak dan waktu tidak akan memutuskan apa yang sudah terjalin.

Menghitung hari. Menikmati setiap detik terakhirku di Banda. Aku yakin aku akan merindukan Banda, merindukan hari-hari yang menyenangkan di sini, bersama saudara-saudara baruku. Aku yakin, aku akan nangis begitu aku memeluk dan menyalami mereka……(bahkan ketika menulis ini, aku menangis).

I don’t want to say good bye, guys!

I just want to say, till we meet again!

I love you! Thanks so much for everything you have done for me…

Dan mohon maaf untuk semua kesalahan

Never say good bye

Never say good bye

You and me and my old friend

Hoping it would never end…..

Menuju Titik NOL

March 22nd, 2006 by gitasahiva

Seru!

Kata itu emang gak cukup buat menggambarkan perjalanan Sabtu-Minggu kemaren ke Sabang. Bisa juga dengan tambahan kata-kata lain: norak, maksa, hebo.h

Yup, gimana ngga norak, soalnya meski udah bulan ke-lima di NAD, diriku belum jadi-jadi nyampe Sabang. Rencana ini dah sempat direncanain bulan lalu, tapi batal. Kali ini, kita dah siapin lebih rapi. Si Kiss, sebagai kepala rombongan (warga negara Sabang soalnya), sudah buat rangkaian jadwal, buking cottage trus buat proposed budget. Hehehe..jadilah kita nyetor masing-masing sejumlah uang.

Tadinya yang mau ikutan rame banget di health, eh karena bertepatan dengan hari launching kampanye malaria, JJ ngundurin diri. Soalnya, bisa kena ’pecat’ dia, yang punya gawe kan bos-nya dia di CDC (yang ngurusin penyakit menular, gitu loh!)

Kita (ber-5) dah nyampein sori banget ke Andrew, bos CDC, bahwa kita pengen banget ikutan ngeramaiin kampanye-nya dia, but kita dah keburu ada rencana ke Sabang.

Dan Si Andrew (bule tinggi banget tapi berwajah imut) dengan bahasa Indonesia yang berlogat aneh, bilang,”saya sedih…”. OO..we are so sorry Andrew.

But, keseruan kita ngga berlangsung lama. Ketika asyik ngerencanain jadwal perjalanan di kamarnya Noer and Arte (soalnya Mak-nya dia lagi cuti) ma Eva, Babe (head of health and nutrition section) masuk. Langsung teriak,”Arte, Noer, Eva, Gita…tomorrow you have to go to Lhok Nga!”.

Terang aja kita protes. Kita bilang, kalo kita dah ada rencana ke Sabang. Eh, dia bilang, “Is not a request, this is order!”. Pokoknya, die ngga mau tahu. Kita semua mesti ke Lhok Nga, dimana kampanye digelar.

Kita jadi diam. Serius ngga sih ni si Babe? Padahal, selama ini orangnya asyik. Suka becanda, tapi ngga konyol. Ngga ribet. But now?

Kita jadi kasak-kusuk ber-5. Ketika pulang, Si Babe negasin lagi. Eva nekat nanya, apa hukuman buat yang ngga datang. Eh, Babe ngancam, ”gue ngga bakal tandatangani cutinya”. Dee…segitunya. Kalo ancamannya itu, gue ma Si Kiss tenang aja. Soalnya konsultan kayak kami emang ngga ada jatah cutinya.,hehehe…tapi gimana ma yang lain?

“Kalo kalian ngga jadi ke Sabang, aku toh tetap ngga akan ke Lhok Nga,” tegas Arte. Si Jawa Timur-an ini emang terkenal berani ngelawan, hehehe…

Sampai pulang, kita semua masih tanda tanya. Lihat besok deh.

So, here we are…

Bandel

Setelah kucing2an yang cukup seru dengan Si Babe, akhirnya taksi kita ngebut ke Pelabuhan Ulele ngejar fery ke Sabang. 15 menit sebelum jam 9. Fiuh, untung masih sempat.


Dan di Sabang, ngga kalah seru dari perjuangan menuju ke sananya. Meski karena dah konsen mau berangkat gara-gara ”ancaman” si Babe, banyak barang-barang yang lupa dibawa.

Nyampe Balohan, mampir kota buat makan, en jalan ke Gapang. Istirahat bentar…trus ke pantai. Snorkling! Subhanallah, indah banget. Baru ini gw ngeliat ikan-ikan hias langsung di bawah air. Warna-warni. Kata temanku, yang aku lihat itu belum apa-apa dibanding yang ada di sana. Tapi itu juga dah lumayan.

Trus kita ke titik O kilometer dari Indonesia. Poto2 lagi, norak2 lagi.

Menuju_titik_0

Trus kita makan malam (gile nunggu ikan bakarnya kelar mpe 2 jam!) di Iboih. Tapi kita yang dah ngantuk, lapar tetap bisa ketawa-ketawa terus seharian. Seru banget.

Bedanya dengan  tempat lain, di Sabang pas malam kita ma teman2 cowo ngga bisa kumpul lama-lama (takut WH (polisi syariah) Bo! Jadi, jam 10 nyampe cottage kita langsung say gud nite ma 2 cowok2 kita itu. Time to sleep.

Pagi, sempat maen ke pantai lagi, trus sarapan (lagi-lagi nunggu makanan datang lama banget) trus males-malesan sebelum bergerak ke kota lagi.

Minggu sore dah mesti balik ke Banda Aceh, sembari berdebar-debar ’hukuman’ apa yang menanti kita besok dari Si Babe….

And….Si Babe Te o pe banget  deh! Belio ngga ngasi hukuman ma kita, karena kampanye kemaren toh udah sukses. Apalah artinya kehadiran kami ber-5 dibanding ratusan or ribuan orang yang lainnya. Ya ngga Bos?

Yang jelas, kapan ada waktu pengen banget ke Sabang lagi, pengen banget kumpul2 ma teman-teman lagi…Guys, I will miss you…

Sesuatu Yang Tertunda

February 19th, 2006 by gitasahiva

Gara-gara kegiatan Diskusi 12 Ulama untuk membicarakan Safe Motherhood dari aspek Kesehatan, Islam dan Adat, acara ke Medan-ku yang mestinya Sabtu kemaren jadi tertunda. Tadinya aku pengen nolak buat kegiatan di tanggal itu, tapi mana mungkin aku geser, karena agenda diskusi ini sendiri seharusnya dibuat di Desember kemaren, jadi Februari ini ngga mungkin mundur lagi. Salah satu kerjaan yang menjadi tugasku sejak menjabat posisi sekarang.

Sedih, karena aku terpaksa mengecewakan keponakan-ku lagi. Andra, yang berulang tahun tanggal 18 kemaren. Aku sudah sempat berjanji untuk hadir pada dia, meski tetap dengan embel2, "kalo Ujing ngga mesti kerja ya say.."(karena aku dah dapat feeling kalo harus batal).

Dan benar, ketika menyusun agenda, tanggal 18-19 adalah tanggal yang tepat untuk diskusi, dan aku harus hadir..terpaksa kukorbankan (lagi-lagi) agenda pribadiku…

Waktu menelpon dia tadi malam, aku iseng nanya dia ulang tahun yang ke berapa. Dan ketika dia jawab, "6", aku jadi tersentak. Bukan karena aku lupa dia lahir tahun berapa, tapi karena ‘diingatkan’ bahwa tahun 2000 itu sudah 6 tahun yang lalu…(hehehe…apa beda nya ya).

Tahun yang membuat aku ingat akan sesuatu yang tidak ingian aku ingat-ingat lagi…

Tapi, alhamdullilah, mudah2an "pengorbananku" ngga sia2. Ternyata oh ternyata..hasil bahasan 12 ulama itu (terutama adat dan agamanya) benar2 keren. Banyak hal yang menarik yang muncul. Mulai dari perlakuan keluarga terhadap ibu saat hamil, melahirkan dan saat anak sudah lahir, nilai2 philosofis-nya cool banget. Misalnya, anak yang lahir, ketika cukuran, rambutnya ditimbang, dan seberat timbangan rambut itu (misalnya 1 gram), dihargai dengan 1 gram emas, trus duit seharga 1 gram emas itu dibagikan kepada hadirin. Sebagai wujud, bahwa anak nantinya akan dermawan. Makin tebal rambut anak, makin banyak yang mesti disumbang. Jadi kalo anaknya botak? Hehehe…ngga tau ya, mungkin ortunya nunggu anaknya gondrong dulu. Trus banyak juga hal lain yang bisa dikaitkan dengan sisi kesehatan loh, pokoknya, kalo buku ini jadi, sosialisasi ke masyarakat penting banget. apalagi  yang hadir juga tokoh adat aceh yang cukup punya pengaruh.

Pas pembahasan agama, gw pura2 ngga dengar deh, apalagi kalo bukan soal pembahasan hak2 istri dan suami, tanggungjawab, dsb. Bukan apa2, ujungnya2 kembali ke soal kewajiban nikah. Fiuh, kalo gw cowo, lajang dan mampu, mungkin akan merah padam deh. tapi berhubung gw cewe, jadi ya pura2 bego aja, soalnya ngga mungkin kan gw yang melamar anak orang (heheh…meski mungkin aja sih).

Anyway, ada juga yang lucu ketika pembahasan soal adat. ada yang nyebutin sesuatu kebiasaan yang terjadi di masyarakat yang negatip,misalnya ibu tidak boleh minum banyak,atau hanya boleh makan jenis makan tertentu…dsb. Tokoh adatnya langsung "ngeles", bilang, itu bukan adat aceh, itu adalah kebiasaan yang sering dilakukan orang (gw jadi bingung, bukankah adat juga adalah kebiasaan yang sering dilakukan). terus belio langsung aja ralat dengan tambahan2 lain…yah sutra lah, kita ambil yang positip2nya aja. tapi tetap, gw bilang dia buku itu nantinya perlu diceritain juga "kebiasaan2" negatip yang sering dilakukan orang, disertai klarifikasi atau penjelasannya…adil dong, ya ngga?

Anyway, kerja 2 hari yang awalnya sempat buat aku bete banget (banyak hal terjadi beberapa hari ini yang buatku berat), berjalan cukup seru. Dan yang bikin aku terharu, ketika menuliskan hasil komisi, si bapak yang tokoh adat dan agama yang cukup sepuh (diatas 70 tahunan gitu and semangat diskusi mpe jam 10 malam), mengingatkan aku," Jangan lupa tulis Bismillah di atas, supaya apa yang kita kerjakan ini, ketika nanti dipergunakan orang, sampai kapanpun, insyallah pahala akan terus mengalir buat kita….."

Amin. Thanks Ustad, karena sudah diingatkan kembali bahwa semua kerja harusnya memang kita niatkan ibadah…semoga.

Till Death Do Us A Part

February 8th, 2006 by gitasahiva

Fiuh, siapa sih yang ngga kepengen ada seseorang yang mau berikrar gitu buat kita? Menikah, yah selalu jadi topik menarik buat orang yang umurnya dah masuk kategori ”wajib” gitu, hehehe….

Tadinya aku males banget en rada sinis ngeliat salah satu majalah pengantin wanita muslim punya tetangga kostku yang memasang ”Sulitkah Menanggalkan Status Lajangmu?” sebagai topik utama.

Males banget, karena paling-paling yang dibicarain ”memojokkan” orang yang belom menikah, dengan sentilan klise, ”apalagi sih? Itulah terlalu milih-milih, ngejer karir banget ya? Ingat umur loh….bla..bla…bla..”.Gubrak!

Belum lagi yang bicarain tentang pahala dan berkah serta rezeki yang dijanjikan Nya pada orang yang  ”berani” menikah…Bayangin, senyum ama suami aja pahalnya gede banget. Dan juga, hehehe…ML! ML aja bisa dapat pahala, gimana nikmatnya ngga dobel!

Percaya banget kalo nikah itu bawa rejeki. Salah satu sahabat yang baru nikah 2 minggu lalu, mengirimkan kabar kalo dia diangkat menjadi supervisor junior di tempat kerjanya. Padahal, waktu menjelang mau nikah, dia ”gamang” banget apakah punya rezeki untuk menghidupi istrinya. Dan kejadian kayak gini ngga satu dua kali, tapi itu memang janji Nya sih.

Makanya nikah,

dah ratusan kali deh kayaknya aku dengar omongan kaya gini

Yup, tapi sama siapa? Cariin dong, jangan cuma ngomong doang

Kamu sih pilih-pilih,

Ya jelaslah pilih-pilih, gile aja apa, untuk seumur hidup bo…beli baju aja kita pasti milih, meski sama sekali ngga bisa disamain or dibandingin, pastilah ada…Tapi kan pengertian ”pilih-pilih” itu ngga sama setiap orang. Yang jelas semua orang kan berharap yang terbaik buat dirinya dan itu dari Nya, right?

Dan lagi, apa yang baik bagi kita, belom tentu baik menurut Nya, begitu juga sebaliknya. Jadi, meski pernah punya orang yang rasanya dah cocok and pengen, tapi kalo Dia bilang ngga, kita mau ngapain? Mau marah? Mau protes? Itu dah hak mutlak Nya, dan Dia Maha Tahu.

Sedih,

Apalagi banyak sekali anjuran agama untuk menikah. Sedih, belum kunjung bisa mengikuti sunah nabi, belum bisa melengkapi agama…..belum bisa mensegerakan anjuran Rasullah….belum bisa menjalankan ”teori2” yang sudah kenyang, hehehe….

Meski masih dengan prasangka buruk terhadap majalah tadi (kebetulan salah satu tokoh yang diminta pendapatnya dalam majalah itu, aku kenal), aku coba baca. Dan ternyata sodara-sodara, majalah itu bisa ngerti dengan posisi-posisi orang-orang senasib diriku (hehehe….) aku lega. Tidak ada yang perlu disalahkan, yang penting ikhtiar, niat…dan ngga dosa. Lega deh…

Salah satu yang tertulis berbunyi, ”tak ada larangan nikah telat dalam islam. Islam menciptakan manusia berpasang-pasangan. Hidup-mati, rezeki, dan jodoh sudah ada yang mengatur. Islam menanamkan kebaikan berbentuk husnudzan (berbaik sangka) yang dapat menumbuhkan sikap optimis….dll..”

Yup optimis dan berbaik sangka pada Nya. Itu kuncinya. Berdoa untuk menjadi orang yang dapat melihat kebaikan pada semua kejadian. Diberi kekuatan untuk bijaksana menyikapi takdir, karena kita tidak bisa merubah takdir. Itulah IMAN.

Dan ketika aku ”protes” pada Nya, bahwa aku ingin diberi kesempatan mendulang pahala dengan ”berbakti pada suami” seperti yang dijanjikan, aku diingatkan bahwa ladang amalku saat ini untuk berbakti pada orangtua, bisa jadi belum tergarap semua. Allah pasti punya jawaban atas segala pertanyaan. Yup, Dia pemegang segala rahasia.

Ya Allah

getarkan hatiku

Pada dia yang tergetar hatinya kepada Mu

Nikah2

HAVE A NICE DAY

February 7th, 2006 by gitasahiva

Jika kamu mau nyamar jadi mahasiswa di aceh ini, gampang banget

Kamu tinggal bawa ransel and pake sepatu kets

Mereka pasti manggil kamu dengan sebutan Adek or Dek

Malah, waktu aku diajak ke lamno dengan salah satu teman lama- sebagai pribadi sih ngga pake ’baju kantor’- ketika nongkrong di salah satu kedai kopi dengan temanku itu, beberapa bapak dengan bahasa aceh nyebut sesuatu tentang aku. Aku sih diam aja ngga ngerti. Temanku itu terbahak-bahak, dia menterjemahkan ke aku dengan bilang bahwa mereka pikir aku bule. Bule dari Hongkong?? Heheehe…

Dan itu, setelah dicari pembenaran (soalnya kalo tampang mah gw jauh banget dari mirip2 bule..) ternyata hanya karena aku mencangklong ransel. Menurut mereka cuma bule yang sering begitu. Hm, padahal banyak juga sih yang disini bawa ransel ya, ngga identik dengan bule, aneh aja.

Balik soal ke mahasiswa tadi, ternyata ngga rugi juga dengan ”penyamaran”. Gara-garanya, kemaren aku buru-buru mesti ke kantor gubernur. Salah satu LSM yang kerja sama dengan kantorku minta aku datang melihat gladi resik untuk acara besok. Awalnya aku males banget, soalnya kerjaan di kantor juga banyak, dan waktunya mepet, dah jam 5 sementara aku jam 6 ada kelas. Dari awal Januari ini kan aku dah mulai lagi kelas fitnes biar fresh. Dan selama 1 bulan ini, total aku masuk hanya 4 kali dari jatah 12 pertemuan. Rugi bangetkan. Susah untuk mendisplinkan diri pulang tepat waktu dari kantor.

Nah, dengan sedikit ngebut aku naik motorku yang aku bawa dari Medan. Naek kreta-lah, kata orang Medan. Lewat jalan yang biasa aku lewati dan surprise juga ngeliat mobil BK 1112 ND dengan stiker saHIVa dibelakangnya (eh ada yang tau ngga itu mobil siapa???)

Gw pikir, kretaku aja yang ditempeli stiker sahiva, hehehe…norak banget ya.

Terus jalan aja. Beberapa hari ini kan aku kucing2an ma polisi. Rada-rada ngga pede, soalnya platnya masih BK.

Dan benar, setelah 3 minggu, aku kena razia besar-besaran. Oh, God. No where to run. Soalnya jalan-jalan di Banda ini banyak banget dibatasi oleh pembatas jalan, yang menyusahkan kita untuk U-turn.

Well, gw disuruh stop dengan Polwan. Deg-degkan karena BK….dia minta SIM and STNK. Diperiksa sebentar (sementara di dalam hati berdoa ngga putus nih, karena konon polisi di banda ganas-ganas juga) dilihat sebentar dan dibalikin lagi.

Sembari dia bilang, ” Hati-hati ya Dek”

Wah, gw ngakak dalam hati. Soalnya, estimasiku sih ni polwan umurnya pastinya di bawah gw…(nyadar dah tua soalnya).

Sama seperti waktu maen ke barak. Buat FGD dan interview ke ibu-ibu barak. Ketika nanya umur, mereka yang tadinya ”meng-adek-adek”kan aku, dan aku sangka memang di atasku umurnya, ternyata jauh lebih muda dari aku. Pengaruh masih single kali ye…..

Untung mereka hanya balik nanya statusku, yang aku jawab enteng, belum nikah, bukan nanya umur..heheheeh…..

And so, cerita terakhir tentang penyamaran,

Nyampe deh di kantor gubernur. Ada satpam di depan yang membuatku terpaksa berhenti. Dan terlontar pertanyaan (sok) lugu, ”ini kantor gubernur kan Bang?”

Si abang satpam langsung ketawa dekat motorku, ”dari Medan ya Dek, mau mendaftar jadi relawan?”

Aku cuma nyengir. Kasian amat lo Git, disangka mahasiswa. Ngga ada tampang-tampang kerja di yu en sama sekali.

Ngga jawab. Aku malah nanya dimana letak gedung serba guna, lokasi gladi resik dilakukan.

Si abang ogah2an menjawab cepat. Dia masih mau nahan gw buat ngobrol. Nanya-nanya tentang Medan dan aku tinggal di mana di banda…fiuh….

Aku bilang aku mau cepat. Dengan berat hati dia ngasi tau arah gedung serba guna

Nyampe sana, liat gladi resik. Dah kelar, kecuali satu hal yang membuat aku mesti balik kantor lagi. Harus.

Aku melirik jam, dah 6 lewat 15.

Oh my God. I miss my class again.

Have a nice day!

Here I am

January 11th, 2006 by gitasahiva

Here I am again,

In my desk. Back to work nih, dah kerja lagi setelah break 10 hari di

Medan

yang terasa sangat2 singkat. Hehehe..selama di

Medan

, nyaris aku juga lebih banyak ngabisin waktu di luar rumah, soalnya emang banyak hal yang mesti aku beresin. Mulai dari memperbaharui SIM dan KTP yang mati Desember kemaren, ke bank trus urusan saHIVa, juga sampe urusan kerjaan di Banda. Karena aku kan disuruh bikin design untuk kampanye, nah biasalah aku yang buat story boardnya n yang tukang gambar aku order ke team creative saHIVa, akhirnya kita ngerjain mpe minggu and Idul Adha kemaren, hehehe…asli, ngga enak banget sama orang rumah.

Para

ponakan juga protes. Waktu aku nyampe rumah trus mau siap2 pergi lagi, Andra, ponakanku yang baru berumur 5 tahun, memandangku dengan pandangan lugunya. “Ujing mau kemana? Mau pergi lagi? Ngga capek-capek Ujing?”

Duh, Ndra. Ditanya capek ya pastinya aku capek banget. Tapi mau gimana lagi, kerjaan mesti beres toh. Masih untung aku diizinkan pulang ke

Medan

. Karena Januari ini agenda kantor mestinya emang padat banget. Agenda yang diundur dari Desember kemaren.

Sampe akhirnya aku balik ke Banda hari ini, agenda makan malam bareng di rumah sekaligus doa bersama rayain ultahku dan nyokap Desember kemaren tidak terlaksana. Karena rencananya mereka pengen buat di malam 30, eh 30 pagi aku dah berangkat ke Parapat bareng teman2 kantor untuk liburan. Dilema banget sih emang, tapi yang sama teman2 udah duluan dijanjikan sih. Aku jadi tuan rumah, ngga enak banget kalo dibatalkan. Kirain acara keluarganya bisa ditukar hari, ngga taunya ngga sempat2 karena aku terpaksa pulang malam terus.

Hik, makanya ntar kalo ada teman, bulan depan aku pulang ke

Medan

ah…

Belum lepas rindu ma keluarga. Belum tersampai niat ngajak ponakan makan dan jalan-jalan. Bahkan, “agenda pribadi” creambath yang sudah aku niatkan dari Banda Aceh tidak terlaksana..hehehe…

Yang penting, aku pengen jalanin yang 3 bulan kedepan ini sebaik-baiknya. Biar jadi ibadah. Di sini suasana enak banget buat ibadah sih. Di Medan, aku susah banget untuk bangun malam, di sini jadi gampang banget.

Meski masih “diejek”  make jilbab “beserak” ma teman2 di Medan, aku juga dah coba2 pake. Mudah2an bisa lebih mantap. Ngga cuma karena di Banda aja.

Banyak hal yang aku temukan di sini. Thanks to Banda Aceh.

This is not tottaly about healing my self like many people thounght. This is just the right time when I need it.

Satu Satu Aku Sayang Ibu

December 22nd, 2005 by gitasahiva

Satu-satu Aku Sayang Ibu

Hari ini, hari Ibu,

Suatu hari yang selama bertahun-tahun kuanggap sama  saja dengan 300-an hari lain di sepanjang tahun

But hari ini, sangat berkesan

Ketika aku mewakili lembagaku untuk menghadiri acara peringatan Hari Ibu yang dimotori oleh salah satu LSM

Seminar Kesehatan Reproduksi untuk Perempuan, menjadi materi acara yang menggugah penasaranku. Yang lainnya ada lomba masak, tari2an anak, puisi, dll…

Hm, menarik juga, ingin tahu seminar seperti apa yang disajikan di Banda Aceh yang kental religius Islamnya ini? Apakah mereka tidak tabu membicarakan seks? Rasa penasaran membuatku mengundurkan agenda yang mestinya kuhadiri pagi ini.

Mengisi buku tamu, seperti biasa. Hanya ketika aku duduk di kursi dalam gedung, baru aku sadari bahwa aku satu-satunya perempuan yang tidak disemat sekuntum anggrek di dadanya. Wah, apa karena mereka merasa aku belum pantas jadi “Ibu” ya sehingga tidak mendapat kehormatan itu? Protesku, en segera meng-sms beberapa teman. Satu sms masuk dengan jawaban, “hahahha….”. Dasar Ika! Tetapi ada juga kok sms simpatik yang menghibur (thanks Pak!)

Seminar Kespro. This is my life!Aku mencoba menahan diri untuk tidak “menggeta” (menggeta = menggatal, istilah saHIVa yang terjemahan bebasnya  suatu tindakan yang membuat orang tahu keberadaan kita. Heboh, gitu deh). Hm….tanganku langsung menuliskan beberapa point yang menarik. Kalo boleh dibilang,  sesuatu yang mestinya bisa dilakukan oleh pembicara agar menjadi lebih baik.

Misalnya, si pembicara mestinya turun “panggung” agar lebih komunikatif. Tidak hanya terduduk di kursi di atas panggung gede, dan merasa aman “bersembunyi” di belakang laptop sehingga wajahnya saja tidak terlihat.

Juga masalah bahasa (lebih cocok dibawakan untuk kelas kecil deh daripada seminar begini! Dengan istilah medis yang tidak semua orang paham) yang aku rasa kurang tepat dengan audiens yang bercampur ada ibu2 40 tahunan, ibu2 muda, remaja, bapak2, dan anak2 gitu loh. Untuk peserta yang mixing kayak gini emang sulit sih.

Ada

yang malu2, ada yang pura2 tidak melihat ke depan, ada yang cuek, tapi lumayan seru pas tanya jawab.

Positipnya, ketika akan mulai, Si Pembicara cukup rendah hati dengan mengatakan bahwa dia bukan yang paling tahu, tapi di sini mengajak untuk berbagi.

Nah, point ini yang aku pakai, ketika ada peserta yang menanyakan soal “keperawanan”, dan ketika jawaban dari pembicara “kurang memuaskan”, diriku akhirnya berdiri memberikan tambahan (tentu saja dengan gaya yang teramat sopan loh dan ngga bikin pembicara tersinggung, wong daku juga mengkait2kan dengan jawaban yang dia berikan kok, tentu saja dengan pinjam kata2 dia tadi, bahwa ini sekedar berbagi pengalaman). Bukan sok pakar banget gitu loh.

Hasilnya, tambahanku yang sekitar 3 menit-an itu dapat tepukan spontan dari anak2 muda yang duduk dipojokan. Sekitar 10 orang gitu yang tepuk tangan. Padahal, sampai seminar ditutup, yang namanya applaus dari peserta ke pembicara tuh ngga ada. Moderator juga ngga ada tuh ngasi “perintah”. Ngga kayak kalo seminar yang pernah aku hadiri, biasanya abis ditutup

kan

, moderator sering bilang kasi applus buat pembicara atau buat kita semua gitu, biar meriah. Ini kagak ada….

Tapi, bukan itu yang membuat hari ini berkesan.

Tapi setelah itu. Ketika acara seminar selesai. Dan acara selanjutnya adalah persembahan dari Anak ke Ibu. Jadi, anak-anak, sekitar 10 orang akan memberikan sesuatu pada “Ibunya”.

Aku kaget, ketika panitia meminta aku untuk naik ke atas panggung sebagai salah satu dari 10 wakil ibu-ibu lainnya. They insisted me. Padahal gw dah bilang, I am not a mother, yet!

Tapi, dengan malu2 kucing gw naik juga. And then, ada 10 anak dengan sebuklet anggrek naek ke panggung.

And, satu persatu mendatangi “Ibu”nya. Anak cewek berjilbab oranye yang baru aku ketemu hari itu memberikan kepadaku. Wajahnya innocent banget. Dia menyalam dan mencium tanganku, yang aku sambut dengan memberikan ciuman di pipinya. Eh, dia langsung merangkulku erat2. Lama banget, Ngga sadar mataku jadi berkaca-kaca (dan sekarang, saat menulis ini aku masih terbawa perasaan haru itu).

Dia juga menangis. Mungkin ingat Ibunya. Dia salah satu piatu tsunami ternyata.

Dia ingat Ibu-nya. Dan aku juga ingat Ibuku. Anak sekecil itu sudah tidak punya ibu. Sungguh berat cobaanmu, Nak.

Kami turun panggung dengan perasaan haru.

What amazing! Yang tadinya aku protes ngga dapat sekuntum bunga, eh malah dapat satu buklet. Dan ngga nyangka aja dipercaya jadi “ibu” meski di atas panggung.

Mudah2an itu bisa menggerakkan hatiku untuk bisa berbuat banyak untuk keselamatan ibu dengan posisiku di pekerjaan sekarang ini.. Isu Safe motherhood!

Supaya jangan lagi banyak orang yang “tidak punya ibu”. (seperti yang ibu kandungku alami. Nenekku meninggal ketika melahirkan ibuku dan saudari kembarnya).

Satu-satu aku sayang Ibu,

Ibu yang begitu perkasa melahirkan aku dan 7 saudara kandungku..(Mom..I just realize that you were completely high risk! Too young (hamil pertama usia 18 tahun), too much (punya anak mpe 8), too closer (melahirkan anak mpir tiap tahun!).

Mom, I miss you

Can’t wait to see you next week…